Friday, August 2, 2024

Sekedar Terapi

 Tulisan-tulisan ini seperti mengirim bangkai keluar angkasa. Karena google sebagai search engine semakin dipenuhi dengan kata-kata komersial di setiap website yang mungkin sudah ditulis oleh robot-robot generik yang membosankan. Siapa yang tahu tulisan ini bertahan setelah bertahun-tahun hilang.

Mari kita tulis, sebagai sekedar terapi.

Di dalam agama saya ada satu hal yang disebut akidah, yang secara bahasa artinya mengikat. Jika ia bisa memahaminya dengan benar, maka segala runtutan lainnya tinggal mengikuti.

Di dunia ini, ada banyak hal yang bisa kita cari tahu. Bisa dengan rentetan informasi koheren, atau mungkin lebih konkrit lagi dengan susunan angka yang bertaut yang sering kita bilang matematika. Namun meskipun ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia ini sudah maju sedemikian rupa, tetap saja ada satu lubang yang mengisi 51% dari pikiran kita masing-masing.

Kenapa 51%? Ya anggap saja sehebat-hebatnya kita mencari jawaban, kita tidak akan pernah yakin sama jawaban kita kalau kita memang tidak dilatih untuk berkeyakinan.

Inilah suatu akidah yang dimaksud.

Kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa kita klaim lalu kita masukkan ke dalam keranjang iman kita, melainkan ternyata ia adalah suatu benda elastis yang harus terus dibentuk dilatih sama halnya dengan otot dan otak kita yang jika didiamkan akan berkurang kapasitasnya.

Misal.

"Mengapa kita harus hidup?"

Pertanyaan ini tentu bergantung pada kondisi mental seseorang, tapi tidak bagi mereka yang menyusun kepercayaannya. Bisa jadi jawabannya salah, tapi kalau seseorang yakin seyakin-yakinnya, maka ia telah membentuk realita baru yang berbeda dengan yang dialami orang lain.

Dengan kepercayaan saja lah kita bisa mengisi relung-relung yang rasanya setiap hari makin melelahkan, karena manusia tidaklah didisain untuk sekedar memenuhi pundi-pundi dan menyantap segala apa yang berkilau di depan matanya. Karena hati itu mudah kesepian.

Lalu apa yang saya percayai? Apakah saya boleh sembarangan percaya?

Tentu sama halnya seperti mengolah otak dan otot. Berbahaya hukumnya jika mempercayai tanpa ada runut hukum-hukum sebelumnya. Dari guru saya sendiri bicara bahwa kita harus menutup segala kemungkinan untuk berpikir bahwa Tuhan itu berkehendak buruk pada hambanya.

Bayangkan, jika saya berpikir secara independen, apakah suatu kepercayaan tersebut bisa lahir dengan sendirinya?

Saya rasa mustahil. Karena tentu manusiawi ketika kita menyusun kerangka pikiran kita terbesit bahwa Tuhan bisa saja berkehendak buruk apabila dia berkehendak. Tapi nyatanya mempelajari kepercayaan yang benar, adalah suatu jalan pintas dalam menghidupi hidup.

Lucunya, sudah agak terlalu terlambat gak ya? Seseorang di usia 31 tahun ini untuk menyusun semuanya kembali.

Dengan menyusun kepercayaan, segala masa yang lalu, kini, dan depan; Akan lahir kembali dalam fisik yang baru. Percaya atau tidak. Karena tiba-tiba kita menutup yang 49% itu dengan 51%. Walaupun hati tetap bergumam, tapi karena pikiran kita tundukkan, maka musuh bebuyutan orang yang hobinya berpikir akan tiba-tiba merasakan hal yang mereka jarang rasakan, yaitu ketenangan.

Percaya itu bukanlah suatu kemalasan berpikir

Percaya itu suatu keberanian dalam berpikir

Meyakini betul

Dengan fisik, pikiran, dan perbuatan

Bahwa pikiran tidak akan pernah cukup

Monday, May 27, 2024

Apakah Tuhan

Apakah kata ini sampai ke Tuhan dengan maksud yang kita kehendaki

Karena kadang kita pun tidak tahu doa kita itu yang terbaik atau bukan

Manusia itu tidak bisa mengerti dua sifat berlawanan ada di satu zat

Sehingga berdoa itu terdengar berlawanan dari bersyukur


Seperti guyonan bapak-bapak kalau seseorang sudah tersungkur di pikiran ruwetnya

"Kamu kenapa makan? Kan kemarin sudah toh?"


Jawabannya ternyata karena kita makhluk siklus, satu siklus berakhir, bodoh lagi kita, nafsu lagi kita, minta yang aneh-aneh lagi kita, padahal bumi dan langit dikasih pun, karena ya kita manusia. bersyukur di magrib, berdoa meminta lagi di magrib.

Wednesday, March 21, 2018

Jika

Jika itu berat.
Karena, dengan satu kata tersebut, dunia bisa dibolak balik sedemikian rupa, waktu bisa dilipat digunting disusun sesuka yang berbicara.
Karena itu, jangan dibiasakan bicara jika.
Karena itu konyol.

If youre tired and things get hard, you rest, you do not quit.

Wednesday, December 6, 2017

Puisi tentang gelap

Hari ini jatahku menjadi gelap
Setiap kali aku berikan tanpa tuntutan
Dibalas saja dengan perih

Jika cinta itu pinta yang disambut
Rendah sekali derajatku
Untuk terus tunduk menyenangkan kau bagai ratu
Lagipula aku ini layak untuk diperlakukan baik baik

Aku bukan anjing yang disentak
Aku bukan pijakan

Kali ini aku layak dan berhak
Bukan pasar pikuk mengobral maaf

Saturday, November 11, 2017

Mengerti apa?

Di balik kardus bekas yang ia robek, ia susun agar tempat ia tidur malam ini sedikit lebih empuk, pria yang pernah kaya pernah miskin pernah ambisius pernah kehilangan segalanya sampai di trotoar Bandung, Braga tepatnya setelah ia menghabiskan uangnya untuk membeli sate kambing, kemudian ia memarkir mobilnya dan mulai menggelar kardus-kardus itu.

Ia terus bertanya-tanya tentang makna yang ia berusaha cari sejak dua puluh tahun lalu, seolah hidupnya memang ditakdirkan untuk menemukan makna tersebut. Segala macam gaya hidup telah ia coba, dan segala macam hal materi telah ia miliki, hingga guru spiritual manapun telah ia sempat kunjungi. Hingga sekitar 3 bulan lalu, ia menemukan post di social media, yang seharusnya menjadi quotes receh yang mudah untuk diabaikan menuliskan puisi ini;

Jika ikan di dalam aquarium mengetahui maknanya,
Bahwa ia hanyalah suatu hiasan bergerak yang kadang diperhatikan kadang diacuhkan
Akankah, makna itu membebaskannya dari ketidakbahagiaan?
Jika dirimu mengerti, tentang hidup, tentang 'akhirnya', tentang 'ternyata'
Apakah itu menjadikanmu lebih pandai dalam menghidupi hidup itu sendiri?
Jika dirimu mengerti, tentang seni, sejarah, musik, dan segala kultur
Apakah itu menjadikanmu pandai tentangnya dan menikmati salah satunya?

Biarkan rasa itu datang saat engkau sungguh-sungguh dalam menerima setiap detik yang telah dihadiahkan, menikmati segala jerih payah untuk menjadi lebih baik setiap harinya, hingga akhirnya engkau tidak berdaya di dalam pelukan maut.

Pria itu kini pergi kesana kemari, mengikuti kemana angin membawa, dan sadar bahwa sejak kecil terinspirasi oleh angin, betapa sejuk ia bisa berkelana kesana kemari, hingga ia memutuskan di sisa umurnya dengan uangnya yang melimpah untuk berkeliling kemana hatinya menuntunnya.

Tuesday, June 20, 2017

Bersujud di tengah pikuknya dan benderangnya malam

Di dalam kereta, pukul 10.45 malam menuju ke tempat labuhan terakhir, seseorang  yang kurus kering dengan kemeja lusuh membawa dagangan tahu dan tempe sambil berdiri tenang, beberapa kali ia ditawarkan tempat duduk namun ia melambaikan terima kasihnya. Di depannya berdiri seorang pria muda pucat pasi, mengerinyitkan dahi, pipi, hingga matanya, ia menghela nafas begitu panjangnya, namun jarak antar nafasnya semakin cepat, hingga akhirnya seorang ibu yang memperhatikan, memberikannya tempat duduk.

Pria itu tersenyum kebingungan, sambil mengangguk menyampaikan terima kasih lewat raut wajahnya. Sang ibu hanya menggelengkan kepalanya sambil mempersilahkan.

Setiap denyutnya semakin terasa, semakin bernafas semakin terhimpit, hingga akhirnya ia menekuk tubuhnya, duduk sambil menaruh kepalanya di pangkuannya sendiri.

Mengapa beberapa orang dianugerahi pikiran yang begitu dalam, hanya untuk menjadi korban dari pikirannya sendiri. Mengapa beberapa orang terlahir dengan begitu mudah mengendalikan pikirannya sendiri, untuk mengambil alih dan menjadikannya sesuai dengan prasangkanya. Namun pikirnya, hanya orang yang sering terhanyutlah yang akan menghargai hangatnya pelukan seseorang, hanya orang yang sering terjatuhlah yang akan menghargai hari yang sederhana.

Namun sayangnya, sebelum itu ia harus berani bersujud di tengah sunyinya malam. 

Wednesday, April 12, 2017

Musim Panas dan Musim Lainnya

Musim panas dan musim-musim lainnya
Di atas, di susunan kata-kata tak beratap
Kesadaran yang ingin dikendalikan
Meluncur dari terang ke gelap

Apa yang menjadikan momen satu lebih baik dari momen lainnya
Apakah karena yang satu berlangsung selamanya
Atau karena yang satu berlangsung seadanya
Dan di dalam rutinitas, kita tidak berada benar-benar berada di sekarang

Musim panas dan musim-musim lainnya
Mengapa semua orang terjerembab di dalam pikirannya
Seolah tiap-tiap dari seseorang, bergerak dengan referensi waktunya sendiri
Ironi ketika mereka ingin bicara untuk menjadi lebih sekarang dari sebelumnya

Oh apakah kita sekedar puing-puing reruntuhan kenangan yang berbenturan
Mencoba menyusun makna dari titik yang sebenarnya tidak diperuntukkan
Untuk dimaknai
Untuk disyukuri

Di saat-saat seperti ini, aku ingin menjauhi kerumunan
Jauh, sejauh-jauhnya.

Saturday, March 11, 2017

Yang saya benci

Tentang balutan cahaya yang dibuat cenderung berbeda dari kenyataan biasanya. Dan durasinya yang hanya berlangsung dua hingga tiga jam. Seolah hidup seseorang bsa dirangkum dalam waktu sesingkat itu. Akhir-akhir ini film semakin bagus, semakin mudah terjangkau untuk segala kalangan, dari segala genre, drama hingga yang paling aneh pun ada.

Saya benci film, karena betapa inspirasionalnya mereka, begitu mudahnya mereka membakar semangat atau emosi saya dalam sesaat, dan menghipnotis saya seolah hidup akan begitu bermakna suatu hari, akan ada perubahan dalam semalam, atau setidaknya dalam lima belas menit dalam tiga jam yang menjadikan dunia pemeran tersebut berubah, dan tiba-tiba dunia berada di sisi mereka.

Mungkin bukan film, saya benci suatu cerita yang diceritakan orang lain, seperti kisah inspirasional pendiri sosial media, aplikasi, brand clothing, atau hal keren lainnya. Karena cerita tersebut terkesan parsial, setengah, dan lebih banyak yang tidak saya dengar.

Mungkin juga bukan cerita. Saya benci tentang kebanyakan orang yang mengidolakan orang-orang tersebut sehingga semua media menyorot tentang orang-orang yang terkesan hebat tersebut, mampu menciptakan begitu banyaknya uang dalam sekejap di usia muda. Mengapa mereka tidak menceritakan tentang tukang parkir di stasiun kereta saya yang setiap hari selalu tersenyum, dan saya bisa percayakan saat saya menitipkan kunci mobil saya?

Tentang bagaimana mereka bisa dipercaya, dan tidak mencari jalan singkat untuk mengejar kekayaan sesaat.

Mengapa kita selalu ingin mendengar satu banding satu milyar. Tentang orang-orang yang sangat hebat, yang jelas-jelas tidak memiliki korelasi secara strata sosial, keberuntungan, ataupun finansial. Mengapa kita tidak mengangkat sesuatu yang sifatnya moralis, akademis, tentang betapa pentingnya untuk memiliki nilai ketika semua orang menghantam apapun demi sekedar reputasi konyolnya.

Mungkin saatnya kita belajar untuk mencintai sesuatu yang biasa-biasa saja. Karena dunia saat ini sedang gembor-gembornya menyebarkan sesuatu yang heboh, bombastis, dalam sekejap orang bisa dengan sabarnya mengantri tempat makan yang mewah ataupun unik, handphone baru, film baru.

Ah mungkin saya benci konsumerisme, tentang bagaimana orang berbondong-bondong setiap harinya didorong untuk belanja-belanja, dan mendapatkan uang lebih banyak lagi, agar ekonomi bisa tumbuh, agar manusia bisa menggerakkan roda ekonomi.

Ah mungkin saya sedang membenci diri saya sendiri. Namun saya mau menulis yang lebih manusiawi saja, tentang resah, gundah, tentang begitu banyak yang tidak bisa dikendalikan, dan begitu sedikit yang bisa dikendalikan, dan di antaranya begitu banyak hal yang kita perhatikan, dan begitu banyak juga hal yang tak sengaja terlewatkan, kita bagai semut di tengah pasar malam, bergantian melihat sesuatu yang terang, kadang gelap, namun yang pasti, karena si semut merasa sepi, di tengah ramainya malam, ia mulai membenci sekitarnya.

Lagipula ini Maret.

Monday, January 2, 2017

Esai tentang takdir

Ada beberapa hal yang kita harus mengerti, tentang pelajaran yang pernah disampaikan sejak TK hingga lulus kuliah misalnya, atau tentang mengapa kita harus berperilaku baik ke orang lain maupun diri sendiri tanpa pamrih, dan mungkin ada ribuan pasal lainnya. Namun ada satu pasal yang harus juga kita pahami bahwa, kita tidak akan mampu untuk mengerti semua hal, karena sebenarnya mungkin tugas kita hanya untuk menjalankan dan percaya.

Beberapa cerita tentang anak yang menjadi korban perkosaan misalnya, mau dilihat dari sudut pandang manapun, kita tidak akan habis pikir dari mana sisi logisnya jika ditarik garis panjang lima puluh tahun ke belakang, dan lima puluh ke depan, dosa apa yang pernah anak itu lakukan hingga harus mengalami hal sekeji itu. Dan jika kita teruskan untuk merenungkan, kita akan sampai dengan dua jawaban, antara semesta memang sekeji itu atau kita perlahan harus mengakui masih banyak yang kita belum mengerti, dan tidak akan pernah mengerti.

Beberapa orang mungkin akan merasakan hal yang senada dengan saya, karena selama ini kita dididik dari kecil dengan ilmu sebab akibat, setiap fenomena bisa dijelaskan dengan kalimat ataupun angka. Namun sebaliknya, seiring kita dewasa kita dihadapkan dengan situasi-situasi yang benar-benar di luar kendali kita, seperti perceraian, perselingkuhan, kekerasan terhadap anak, orang tua yang abusive,  bullying, orang tua sakit parah, ketidakpastian hidup, kecelakaan, dan segala bentuk penderitaan kolosal lainnya.

Lalu kita setiap harinya berdoa agar kita bisa sedikit lebih beruntung dari mereka yang pernah kita lihat, dengan hati yang tertunduk, tanpa mengucap serapah, kita mengakui betapa besarnya Ia yang menciptakan, dan betapa tidak signifikannya kita di dalam alam semesta ini, namun dalam rendahnya hati kita yang menyentuh bumi tanah tersebut, kita menanam harapan kecil, bahwa mungkin dalam kasihNya kita berhak untuk berbahagia di sini dan di alam lainnya, dan dalam harapan tersebut kita akan terus berusaha dengan menundukkan hati kita.

Karena segala ketidakbahagiaan berasal dari hati yang mendongak, berpikir bahwa kita mengetahui apa yang kita perbuat, dan kita memiliki hak atas apa yang kita tanam. Lalu apa kita ini makhluk yang harus sekedar sabar leyeh-leyeh di pinggir jalan sambil meminta melulu? Dan yang terus berusaha menyusun dirinya, sambil menundukkan hatinya, akan ditinggikan derajatnya, jika bukan sekarang, di alam yang nanti.

Untuk saya sendiri yang sedang frustrasi, untuk orang lain yang sedang dihadapkan dengan cobaan-cobaan. Sudahi berpikirmu yang sudah berbulan-bulan berujung kalimat yang sama, mulailah dengan mengisi apa yang bisa diisi, membersihkan apa yang bisa dibersihkan, dan berdoa bahwa mungkin esok akan ada cerita-cerita baik lainnya.

Selamat tahun baru.

Saturday, April 2, 2016

Menyusun Senja

Ini tentang tulisan saya untuk menggapai mimpi-mimpi yang rusak sebelum tercapai.

Ini tentang lilin yang redup sebelum cahaya menyambut.

Ini tentang senja yang terlalu lama berganti ke malam.

Subuh, bukankah kamu selalu mendengar lantunan namaKu berkumandang. Namun derap langkahmu semakin jauh dari kebahagiaan nak. Kamu itu anak yang baik, namun entah mengapa kamu murung terus seolah seseorang menyembunyikan mainanmu. Aku dekat, lebih dekat dari rasa takutmu menghadapi guratan masa depan. Sejak kapan kamu menjadi begini, berada di dalam malam yang panjang, namun kamu terus merasa kekurangan waktu untuk sekedar tenang.

Yang belum tercapai, tulislah. Dalam kata-kata yang baik. Karena kamu, niatmu yang baik akan terjaga di sana. Hingga suatu hari kamu melihat tulisanmu, dan sadar atas apa yang telah Aku suguhkan padamu.

Kamu akan terus kesepian jika kamu terus bersenandung tentang apa yang tidak kamu punya, tentang apa yang tidak bisa kamu capai. Di sisimu itu ada yang menyemangati, namun kau angkuh untuk menghargainya. Nak, masamu yang sekarang ini sulit, namun dengan segala hiruk pikuk yang kamu lihat sekarang, percayalah bahwa ini baik. Dengan segala rasa takutmu dan ketidakadilan dunia, percayalah. Setiap engkau takut, rajutlah tulisan-tulisanmu di sini.

Aku ini mendengar, namun prasangkamu itu berbelit-belit. Ini permainan nak, suatu hari kamu akan terbahak-bahak mengingat ini. Untuk sementara ini, berdoa, berdoa, dan berdoa.

Aku ini melihat apa yang kamu perbuat, dosa kecil konyolmu yang kau ulang pun Aku pusing melihatnya. Namun hatimu itu baik, dan harus selalu di sana. Sebut namaKu nak ketika hal mulai tidak masuk akal.

Salam hangat,

Semesta

Sunday, March 20, 2016

Cerita tentang mereka yang pergi tanpa kembali

Pada dasarnya, dunia benci mereka yang tidak bisa bersyukur dan menjaga apa yang telah menjadi miliknya.

Sebut saja raja yang memperlakukan ratunya secara semena-mena hingga ratunya pergi. Sebut saja ketika kita telah memberikan seseorang sebagian dari harta kita untuk bekerja, namun malah kerja secara uring-uringan. AzabKu pedih kata Tuhan, jikalau kau telah diberikan lebih, diberikan kesempatan, namun kau sia-siakan.

Sebut saja ini cerita tentang itu, tentang saya yang akhirnya pergi.

Saya adalah bagian dari diri saya sendiri, sebut saja sebenarnya ada beberapa unsur yang harus ada di dalam manusia. Saya adalah unsur tersebut, yang saya sebut Berkah, dan anggap saja tubuh yang saya tunggangi saat ini bernama Afif. Afif sehat, normal seperti manusia kebanyakan. Namun Afif selalu menempatkan dirinya di dalam bilik-bilik sepi, di mana Afif biasa bersandar untuk berpikir sebentar. Sebenarnya setiap Afif bersandar sebentar selalu ada pilihan. Pilihan untuk bersyukur, pilihan untuk mengeluh. Hanya ada dua yang mengiringi hari-hari Afif ini.

Di antara dua, akan ada saya Berkah, dan teman saya Gundah.

Seperti pembaca mungkin akan berakhir seperti apa. Saya sudah menanti berhari-hari untuk mendengar puja tentang harinya, tentang betapa indahnya nyanyian merdu malam, tentang senyapnya jalanan, tentang indahnya misteri ketidak pastian, tentang rejeki yang terus mengalir, tentang nikmat yang hanya perlu disebut sesekali agar setidaknya saya dapat bertahan hidup di tubuh ini. Atau tidak saya akan terus menyusut dan kalau saya merasa terancam, saya akan pergi seketika.

Namun saya juga heran apa yang membuat Afif begitu mempersulit hidupnya yang sebenarnya biasa saja dibandingkan dengan orang kebanyakan. Memang sih Afif terlahir begitu cerdas dan teman-temannya sudah sukses di mana-mana. Namun sampai ia tua kini, nampaknya ini waktunya saya pergi.

Ketika bangun pagi Afif hanya menyumpah tentang betapa dirinya ingin tidak terbangun untuk selamanya. Ketika Afif terjebak di kemacetan, ia akan menghina semua yang berada di sekitarnya, dan saya bisa terus bercerita tentang Afif, tentang ia terus mempersulit hidupnya ketika sebenarnya yang ia butuhkan hanyalah perspektif baru.

Tentang mereka yang kecil dan terus mengalir, tidak harus besar dan mengejutkan. Namun jika saja Afif tahu betapa pentingnya untuk mensyukuri hal-hal kecil yang remeh tersebut, Gundah yang sebenarnya saya tidak suka-suka amat, pun bisa saya singkirkan. Toh badan Afif sudah terlalu sempit untuk satu unsur di dalamnya.

Namun saya harus pergi, tanpa kembali.

Dan membiarkan Afif merusak hidupnya, berkali-kali. 

Monday, November 16, 2015

Tomas Radaya

Ketika tiang listrik dan kabelnya seolah menari naik turun, menyapa, saat ia memandang ke jendela mobil. Sudah dua puluh tahun sejak itu, semakin tua, namun yang dilakukan tetap sama, menyendiri memandang hal-hal yang orang lain tidak pernah perhatikan. Eksentrik; Hobinya sih kerja, tapi uangnya tidak tahu habis kemana. Lemarinya selalu penuh dengan arloji warna warni yang memiliki tutup tokoh kartun di depannya, jika dibuka akan tampak jam digital di dalamnya.

Saya kakaknya, Nuril Radaya. Dari kecil saya tumbuh bersama adik saya yang lucu ini, walaupun sekarang sudah dua puluh lima, tapi ia masih begitu adanya. Saya kebetulan sudah menikah, istri saya sedang mengandung tiga bulan. Karena ayah kami baru meninggal sekitar seminggu lalu. Saya jadi sering menginap di rumah mendiang orang tua saya, ibu saya yang masih sehat, ditemani bersama Tomas.

Tomas ini cerdas, karena keturunan dari ayahnya sendiri sih. Ayah saya merupakan lulusan aeronotika di ITB dulu, dari kecil beasiswa, dapat program magister dan doktornya pun beasiswa di Amerika Serikat sana. Ibu saya lulusan kedokteran, katanya sih mereka pertama kali ketemu waktu cek paru-paru pertama kali. Karena ayah saya perokok berat dulunya, sejak bertemu ibu saya, langsung dipaksa berhenti. Dari situ katanya malah jadi benih pertemanan hingga ke pelaminan.

"Ril, si Astari gak kamu ajak? Kamu nyelonong aja ninggalin istri kamu di rumah begitu, nanti kalo dia ditaksir sama lurah sebelah gimana?" Ibu saya mampir membawakan martabak telor.

"Iya nanti Astari mampir, tadi pagi dia jenguk temennya, baru lahiran juga. Sekalian lah ketemu temen, ketemu aku terus nanti bentuk muka anak aku begitu-begitu aja lagi." Saya membalas.

"Hus. Ngomongnya. Kebiasaan deh gak lucu." Ibu menepuk pundakku.

Saya lulus tahun 2008, Tomas lulus sekitar 2010. Dua-duanya gak ada yang antusias untuk masuk jurusan teknik ataupun kedokteran. Malah tertarik untuk masuk IT. Ketika saya lulus, saya langsung masuk kerja di multinational company sih, dapat training dua tahun di Singapura. Adik saya yang IPnya tembus 3.9 malah masuk entry level di perusahaan developer mobile software lokal. Tapi karena emang dasarnya otaknya pinter sih, sekarang dia masuk ke multinational company juga untuk jadi program analyst. 

Saya selalu iri sih dengan cara Tomas berpakaian, menjalani hidup, mengambil keputusan. Kemejanya selalu disetrika rapih, warnanya hanya ada biru muda dan abu-abu, celananya selalu warna cokelat terang dan gelap. Ia selalu bangun pagi jam 5 untuk membantu membuatkan ibunya sarapan, dan pulang sebelum jam 8 karena ia selalu download film serial kesukaannya sebelum tidur. Dia juga sudah menabung untuk program magisternya di Belanda nanti, walaupun sudah 80 persen dia akan dapat beasiswa.

"Tom, makan mie ayam jamur di Tebet yuk. Sekalian aku jemput Astari di situ, siapa tau ketemu Anin di situ."

"Heh, jangan ngomong aneh-aneh deh. Ngajak, ngajak aja. Bentar ya, matiin AC bentar." Tomas bergegas mengambil jaketnya.

"Tom, kamu kapan belajar nyetir deh. Mau sampe kapan naik angkot kopaja terus. Orang tabungan udah kayak gaji pemain bola liga spanyol gitu." Aku sambil menyalakan mobil, dan menunggu mobil panas.

"Iya liga spanyol divisi tiga." Tomas membalas bercanda. Tomas mungkin tidak dikaruniai selera humor yang baik, setelah segala bakatnya berada di dia.

Akhirnya dari rumah, saya dan Tomas berangkat ke daerah Tebet. Sudah agak malam waktu itu, sekitar pukul 10 malam, tapi rasanya hari masih panjang. Karena beberapa hari ini saya tidak masuk ke kantor, sekedar balas email dari handphone ataupun per panggilan telepon.

"Ril, kayaknya Ibu masih sedih banget deh kehilangan Ayah. Semalem aku jam satu pagi gitu kedengeran ada orang ngambil minum sambil nahan nangis gitu." Tomas celetuk serius.

"Ya namanya juga suami istri Tom. Apalagi Ibu dapetnya yang sebaik Ayah kayak gitu. Kerjaannya bawain makanan melulu ke rumah, segala bunga lah dibawa udah kayak jaman pacaran, kadang beli mesin cuci, mesin penyedot debu. Konyolnya lagi, itu dibungkus pake kertas kado gambar-gambar gitu kan? Bapak kamu tuh, kelakuan, masih genit aja sama istri sendiri."

"Iya sih. Tapi aku jadi takut berkeluarga jadinya Ril, gak enak aja gitu ninggalin Ibu. Dulu Ibu ada yang nemenin tiap hari ketawa aja kerjaannya sama ayah di dapur. Sekarang aku mau pergi malem minggu aja jadi gak enak." Tiba-tiba nada Tomas berubah sendu.

"Yah Tom. Kalo Ibu denger kamu ngomong begini, yang ada malah makin nangis dia. Ya udah lah, kamu mah dari dulu sensitif amat sama orang lain. Kalo sama orang-orang terdeket kamu mah, kamu lakuin aja yang bikin kamu bahagia gitu, karena emang kita-kita nih, Ayah, Ibu, tuh dari dulu ya pingin kamu seneng. Kamu udah bertanggung jawab segini jauh, kalo kamu mau nyenengin aku, Ibu terus ya gak ada habisnya."

"Ayah udah pergi, suatu hari Ibu pergi, aku juga pergi. Kalaupun aku nanti pergi, aku pingin ngeliat kamu bahagia, berusaha sama sisa hidup kamu, nanti aku pantau di alam sana, di surga, ataupun di neraka haha. Makanya jangan ngunci kamar terus malem-malem, nanti diliatin dari sana hahahaha."

"Ya kali Ril, gak gitu juga. Iya sih, ada benernya."

Dari kecil Tomas memang agak lucu sih, kalau lagi nonton bola, misalnya Belanda lawan Korea Selatan, dia bakal terang-terangan bela Korea Selatan, karena dia orangnya gak tegaan kalau ada underdog gitu. Kalau nonton acara wild world yang cheetah kejar-kejaran sama kerbau saja dia bisa nangis, padahal sudah SMP waktu itu.

Jujur saya agak kasihan ketika Tomas sewaktu SMA harus kenal dengan Anin ini. Dari dulu Anin memang agak suka ngelawan orangnya, pingin tampil beda. Tomas yang cupu gitu entah kenapa malah kepincut sama yang seperti itu. Mereka sempat bersama sekitar 1 tahun, sampai akhirnya putus karena Anin selingkuh. Tomas bukannya marah atau apa, malah bilang ke selingkuhannya untuk jagain Anin.

Kayaknya itu terakhir saya mendengar cerita cinta soal Tomas, sejak itu ia tidak pernah cerita banyak soal pasangannya. Kata Ibu sih kemarin ia kepergok ketemu di mall sama wanita rambut pendek. Ya saya hanya bisa mendoakan sih.

"Sayang, aku udah di depan rumah temen kamu nih. Masuk sekalian apa udah kemaleman? Kalo bisa aku ga usah masuk deh, ada Tomas nih, kita makan mie ayam jamur di Tebet situ yuk."

Akhirnya Astari keluar dari rumah temannya dan bergegas masuk ke mobil, tiba-tiba mulai gerimis.

"Tom, kamu dibully apa lagi sama si papa Nuril? Kalo ada apa-apa bilang aku ya, biar aku patahin lehernya." Istri saya memang lain kalau menyapa.

Sambil berkendara pelan, di tengah rintik hujan, Tomas pindah ke kursi belakang. Istri saya sambil mengelus perutnya yang sudah bulat, Tomas masih melihat tarian tiang listrik yang sama. Saya selalu merasa Ayah dan Ibu mendoakan kami. Tiba-tiba melihat betapa jauh saya melangkah dari saya yang dulu sampai saya yang bisa menjadi figur bagi adik saya yang saya banggakan, mata saya berair. Dan ketika menoleh ke kiri, senyumnya masih sama, dan akan saya jaga.

Sunday, November 15, 2015

Bengong

Yang sering saya tanyakan ke diri saya akhir-akhir ini, saya jadi sering jujur bertanya. Jujur mengeluh. Jujur tentang saya memang cengeng. Selama ini bulak balik kerja pagi malam. Saya bengong.

Apa yang kurang dari saya.

Baru abis balik dari nikahan, terus ke akikahan anak orang. Kayaknya dunia adil gitu sama mereka.

Linear sih lebih tepatnya.

Ketika berusaha begitu beratnya, ya secara grafik dia akan berada di titik yang lebih jauh dari sebelumnya. Karena nilai yang dimasukkan ya memang besar. Ketika rajin, maka mereka mendapatkan hasil yang lebih baik. Ketika baik, mereka akan mendapatkan orang-orang baik di dekat mereka. Suatu yang bisa diprediksi, secara teori ataupun aplikasinya masuk gitu.

Sedangkan hidup saya dari dulu, kayak grafik abstrak.

Giliran diseriusin eh bubar, giliran lagi baik dipukulin, giliran lagi mau punya hal yang baik-baik ada aja halangannya.

Tapi dari situ juga sih banyak belajar, dari situ jadi orang yang lebih berkepribadian di banding mereka yang sudah serba punya dari kecil, serba dibantu untuk dapat ini itu.

Tapi mau sampai kapan belajarnya, buat apa berkarakter kalau cuman jadi korban bully dunia melulu.

Seiring dewasa banyak yang nyeramahin saya mulai dari bos, rekan kerja, dan kolega. Yang inti ceramahnya ya, nanti akan ada hal-hal di masa depan yang tidak bisa diantisipasi, diprediksi, dicoba untuk diselesaikan dengan akal pikiran juga gak mungkin. Dari situ nanti akan dihadapkan untuk memilih, untuk mempercayai sisi yang baik, atau sisi yang buruk dari hal-hal tersebut.

Suatu hari, ketika lagi kerja serius, sudah beramal baik, nolong orang sebisa mungkin, tiba-tiba orang tua meninggal, dipecat, atau istri minta cerai. Dari situ, hanya bisa ambil pesan moral, yang terkadang konyol dan terkesan dipaksakan untuk dinyatakan.

Percaya, beriman terhadap hal yang benar katanya.

Saya sering banget sih denger ayat yang bilang kalau beriman terhadap hal yang salah (bukan Tuhan), dosanya tidak akan diampuni.

Tapi mungkin maksudnya bukan tidak akan diampuni, tapi mereka yang membiarkan diri mereka tidak diampuni oleh Tuhan.

Karena ada rekan kantor saya gitu, yang sudah dua kali berkeluarga tapi gagal, berkata pada saya "jadi cowok baik, cuman bakal ngasih cewek gak bener ran". Dari prinsip yang ia percaya, dia beriman bahwa lebih baik menjadi pria yang bisa seenaknya ngobrak ngabrik perempuan secara fisik ataupun jiwa, karena ya dia percayanya begitu. Sampai sekarang dia masih bingung, terlihat sih dia kehilangan kepercayaannya atau imannya ketika kehilangan istrinya sewaktu itu.

Sedangkan seperti pria yang kemarin saya ceritakan seorang technical support yang berangkat dari gak punya apa-apa dan percaya bahwa jodoh itu ada, beberapa hal bisa tercapai kalau berusaha, asal tetep sabar dan bertanggung jawab. Akhirnya walau gak gampang, bisa punya apa yang ia sebut keluarga.

Saya rasa hidup akan jadi lebih mudah jika kita percaya terhadap hal-hal yang baik. Jujur juga saya kehilangan rasa percaya saya terhadap hidup, yang tadinya berada di suatu lorong yang punya titik terang di penghujung. Tiba-tiba ditutup aja gitu.

Walaupun konyol, saya mau mulai percaya lagi. Saya mau percaya bahwa Tuhan itu maha adil dan bijaksana. Saya mau percaya bahwa Tuhan punya rencana, dan Tuhan tidak tidur, dan Tuhan tahu apa yang saya lakukan selama ini (walaupun dosa saya banyak juga mungkin).

Saturday, November 14, 2015

Cinta dari Sudut Pandang Technical Support

Panggil saja ia Aldo.

Karena saya baru-baru ini mengalami masa yang sulit. Saya mengeluarkan pertanyaan yang konyol namun selalu menarik untuk didengar jawabannya.

"Mas Aldo dulu ceritanya gimana bisa nikah sampe yakin sama yang sekarang?"

Saya bertanya sambil ngemil chatime di tengah hujan deras di suatu mall jakarta setelah seminar di ancol, saya bersiap mendengar.

"Wah ran, dulu waktu gw masih STM gw udah punya pacar tuh. Tapi pas gw kelas 2 STM, gw baru kenal tuh sama calon istri gw, adek kelas gw yang tiap hari satu angkot kalo berangkat ke sekolah. Tapi semasa gw pacaran sama yang mantan gw yang dulu, gw gak ada rasa apa-apa, hampa gitu. Malah setiap ngeliat sama adek kelas itu gw kepikiran terus. Padahal kalo dibilang cantikan yang mana, masih cantikan pacar gw."

"Nah ini yang seru ran. Gw tuh sampe kebawa mimpi dikasih petunjuk, gw ngapel ke rumah mantan gw yang itu, tapi pas ngapel ke rumahnya dia, malah ada calon bini gw itu. Di mimpi itu lah ran, gw semakin mantep."

Saya hanya tertawa-tawa sambil seruput minum minum.

"Ya abis itu ternyata bener. Mantan gw yang waktu itu emang suka cari perhatian ternyata kalo gw lagi ga di sampingnya. Suatu hari ada temen gw yang dibolehin main ke dalem rumahnya buat main, ya di situ lah gw sakit hati. Gw putusin sebelah pihak. Nah setelah itu gw kenalan deh akhirnya beraniin diri untuk sama yang calon bini gw itu. Padahal waktu itu banyak yang naksir, tapi yaudah dia maunya sama gw kan."

"Tapi bener deh ran, kalau yang namanya cinta. Itu memang adanya di pandangan pertama. Ada yang namanya getaran. Hahaha. Jadi ya kayak gitu lah. Abis itu kita sempet pisah. Gw kerja di jakarta, dia kerja di batam. Gw masih belum kuliah tuh waktu itu. Tapi waktu itu berat juga, soalnya setelah dua tahun pisah, dia mau diperpanjang di batam. Langsung aja gw ultimatum, kalo dua tahun saya bisa nunggu kamu, kalo tiga tahun, saya gak bisa janjiin apa-apa. Setelah itu dia langsung pulang dan minta ketemu di jakarta."

"Tapi ini juga bener deh ran. Kalo kamu udah nikah, rejeki kamu pasti dibantu sama Yang Di Atas. Dia abis itu minta nikah, minta tunangan. Gw sih bilang ke orang tuanya waktu itu, nikahnya umur 27, saya bisa nafkahin, janji untuk ngasih segini ke anak ibu bapak. Eh tapi di tengah jalan, katanya yaudah suruh nikah dulu aja walaupun belum gimana-gimana."

"Tau gak ran dulu tahun 2003 pas gw nikah gaji gw masih berapa?" Aldo bertanya sambil melirik cewek-cewek mall yang pake rok pendek. Entah dia sebenarnya mau ngasih saya inspirasi soal cinta, tapi di satu sisi dia masih lirik-lirik cewek lain. Ya manusiawi sih.

"Berapa mas?"

"900 ribu doang waktu itu. Gw cuman bagian instalasi UPS waktu itu. Masang-masang kabel sama konduktor dan lain lain. Tapi kalo udah lembur bisa dibayar dua kali, jadi bisa 1.8 juta lah per bulan. Dan pas waktu itu gw juga baru mau mulai kuliah. Gw juga dibayarin ran kuliahnya sama ibu bendahara kantor gw, karena gw suka cerita pengen kuliah, eh dibayarin. Tapi akhirnya ya gw gantiin juga duitnya pas udah lulus."

"Aduh ran, waktu itu kan baru masuk kuliah. Pas kuliah kan mesti punya laptop. Gw bingung ngomongnya ke ibu bendahara itu. Akhirnya gw cerita aja. Eh dibeliin juga. Bener deh ran, kalo udah nikah, rejeki lo ada aja yang lewat. Tapi kalo ga bersyukur ada juga tuh kayak keponakannya si ibu bendahara, udah dikuliahin IPnya masih 1 koma terus."

"Ya waktu itu gw sih ga pernah mikir bisa sampe kuliah, sampe akhirnya kerja di sini. Tapi ya gitu ran, kalo cinta, pas ketemu jodoh lo, ya lo tau aja gitu, ada getarannya. Sampe kebawa mimpi." Lagi-lagi ia ngomong hal itu sambil ngeliatin cewek pake rok mini yang lewat di mal.

Sebenarnya cerita saya dan si orang ini masih banyak. Saya salut sih sama orang ini. Saya yang hidupnya segini gampangnya masih suka ngeluh karena capek ini itu. Ada sesuatu sih yang saya liat dari dia, yang gak saya liat dari orang kebanyakan di jaman sekarang. Dia punya iman, percaya bahwa semua bisa tercapai kalau berusaha.

Mungkin jika kita mulai dari itu, akan lebih mudah.

Dia menunjukkan foto dia sama istrinya lagi main di perosotan sama anaknya. Kebahagiaan memang tidak bisa diukur dengan uang belaka.

Friday, October 23, 2015

Membahagiakan Diri Sendiri

Jika saya tarik lurus garis ke belakang, dari kecil entah apakah itu bawaan lahir atau cara didik orang tua yang mempengaruhi kepribadian saya, saya dari kecil selalu keras dengan diri saya sendiri.

Saya masih ingat dengan jelas saya menangis di tengah kelas sewaktu taman kanak-kanak karena tidak bisa menggambar bintang, saya membandingkan diri saya dengan teman-teman saya yang terlihat serius sedang menggambar, semua terlihat bisa, saya panik dan mulai menangis.

Ketika mulai sekolah dasar, saya selalu membanding-bandingkan diri saya dengan orang lain, menunggu dipuji orang lain, menunggu orang lain menerima saya dengan segala kekurangan saya. Namun saya terlalu berusaha menyenangkan semua orang, kadang saya ingat betapa saya terlihat aneh dan tidak normal di seusia saya. Saya murung, terus berpikir dan tidak pernah merasa seumur dengan teman-teman saya.

Dan terus begitu.

Saya merasa saya harus selalu terdepan di antara yang lain. Karena hanya dengan cara itu saya bisa dipandang, dihargai. Saya bertingkah berbeda-beda ke tiap jenis orang, karena hanya dengan itu saya bisa disukai banyak orang. Saya belajar agar semua orang akan bahagia jika saya bisa berhasil lulus dengan nilai yang baik. Saya akan bahagia jika orang lain menerima saya, saya akan bahagia jika orang lain memuji saya, saya akan bahagia jika orang lain mengenal dan menghargai keberadaan saya.

Saya mulai menyadari ini ketika saya bersama dengan pacar saya sewaktu itu. Ia mulai menyadari bahwa saya tidak memiliki kepercayaan diri, walaupun di luar saya terlihat paling benderang, dan mempertanyakan kenapa, kenapa, dan kenapa. Saya pun seperti dibenturkan ke tembok. Konyolnya, karena saking dekatnya, saya menjadikan ia sewaktu itu sebagai satu-satunya orang yang harus saya bahagiakan.

Ketika kita sedang jauh di negara yang berbeda, dan ia murung, mengalami sedih yang berlarut. Saya yang biasanya membuat ia senang, merasa gagal, terus mempertanyakan kenapa ia sedih, murung. Dan ketika ia tidak bisa menjawab sama sekali. Saya merasa tidak bisa bahagia lagi. Karena saya merasa keberadaan saya tidak dihargai.

Padahal semua orang akan sedih. Membuatnya terus bahagia, adalah ide bodoh.

Saya tahu semua orang memiliki kecenderungan yang berbeda-beda, penyakit karakter yang berbeda-beda.

Saya harus berdamai dengan diri saya sendiri. Dan mulai memiliki alasan yang lebih dalam untuk melakukan hal di hidup saya. Saya tidak bekerja di multinational company hanya untuk menyenangkan orang lain. Karena saya tahu betapa inginnya saya untuk dipuji, disanjung, dipuja dengan "lain ya memang kamu, gak seperti yang lain nih".

Ketika di dunia kerja, semuanya sudah abstrak. Tidak ada lagi penilaian. Checkpoint untuk GPA sudah tidak ada. Orang tua hanya ingin melihat saya menikah dan beranak begitu banyak hingga membuat kesebelasan sepak bola. Saya yang terbiasa diberikan pujian, pujian, pujian. Kehilangan sumber pujian tersebut.

Saya ingin diterima orang lain, padahal yang pertama kali harus menerima saya ya saya sendiri, kali ini biarkan saya memuji diri saya sendiri terlebih dahulu.

"Ran, your life doesn't suck that much. You did a good job already, even if you fail, you'll die anyway. So you're okay, and just be the way you are, don't try to please everyone any longer. It's okay if you break up, you have a divorce, you don't make it to top 10 richest people in forbes. Just make sure you're still you, the guy that always want to sit down selling croissant at 10 AM in the morning in your own bakery store."

Mulai hari ini, saya mau melakukan hal-hal di dunia ini, untuk saya sendiri terlebih dahulu. Saya juga tidak mau merencanakan hidup saya terlalu banyak mulai hari ini. Saya sudah terlalu lama murung. Mudah-mudahan saya bisa menerima diri saya dengan lebih baik.

Sunday, September 20, 2015

Terbiasa

Terlepas dari mereka memiliki lebih banyak atau sedikit, jika terbiasa cukup dengan yang sedikit, mereka akan terus tertunduk tersenyum mengunyah nasi pecel dengan kangkung tempenya.

Katanya orang akan menjadi dewasa jika kuat berada di tengah pergantian di antara dua keadaan. Mereka yang tidak terlalu bergeming ketika ada yang membahagiakan ataupun menyedihkan. Mereka membiasakan diri untuk tidak menjadi 'terlalu' ketika ada keadaan yang sedikit berbeda dari rutinitas mereka. Tanpa menjadi muram, mereka terlihat seperti pribadi yang tenang.

Ketika ditanya.

"Bukankah normal ketika seseorang mengikuti perasaannya ketika ada yang membuat ia senang, lalu menjadi murung ketika ada yang membuatnya sedih?"

Ia menjawab pendek.

"Kalau terbiasa terbawa arus, akan terbawa arus terus."

Mereka berdiri sambil bekerja, dengan senyum ringan, tanpa membesar-besarkan, namun di dalam dirinya seolah ada filter besar yang menjadikan mereka begitu penuh percaya diri, tidak memerlukan pujian, ataupun suatu kepastian.

Karena mereka membiasakan mengendalikan sesuatu yang satu-satunya bisa dikendalikan di hidup ini, diri sendiri. Ketika mereka terbiasa, hidup akan mengalir apa adanya.

Sunday, September 6, 2015

Selalu ada yang dikorbankan

Selalu akan ada pil pahit yang dikorbankan untuk meraih sesuatu. Jika ada buku-buku motivasi yang menawarkan hal-hal seperti: "segala sesuatu berada di kepala kita, cukup bayangkan, dan hal itu akan datang ke anda", sebaiknya bakar saja bukunya. Karena buku motivasi, untuk menjadi best-seller harus memiliki formula yang cukup mendasar dalam bukunya, yakni: "cara cepat, jurus, dan formula".

Kita diiming-imingi bahwa akan ada hal yang sangat cepat hasilnya, mujarab, dan tanpa usaha. Padahal nyatanya, pada akhirnya orang yang termakan ide ini akan menjadi buta dengan keadaan dunia nyata. Mereka begitu putus asanya dalam menghadapi hidup, lalu menjadikan suatu pedoman yang ditulis orang secara tidak realistis dijadikan dogma hidupnya.

Padahal di dunia ini selalu begitu, jika orang tua saya tidak bela-belain masuk pagi 5 kali seminggu, saya tidak akan menjadi seperti yang sekarang, jika ibu saya tidak bela-belain menahan diri untuk bertemu temennya reuni nongkrong sana-sini ketika saya masih balita, saya tidak akan menjadi saya yang sekarang. Di era yang serba cepat, hasil instan, kita juga diiming-iming hal yang sama, segala sesuatu seharusnya bisa terjadi sesuai keinginan kalian, cukup dengan membeli buku ini, kerja di tempat jenis ini, lakukan hal ini, padahal memang tidak ada cara jitu untuk melakukan hal-hal bombastis di dunia ini.

Kita lupa generasi kita yang lama seperti apa, yang terus menerus dengan ikhlas memberikan apa yang terbaik dari diri mereka, terlepas akan menjadi terkenal ataupun orang terkaya di dunia. Informasi semakin banyak, semakin banyak artikel menggiurkan yang seolah menjanjikan. Ditambah, kita dikenalkan sosial media, kita terus cenderung melihat rumput tetangga setiap harinya, padahal harusnya kita bekerja keras untuk menanam rumput di halaman kita sendiri.

Generasi kita terus tumbuh penuh stres. Jika dahulu kita hanya bisa membandingkan diri kita dengan orang-orang yang berada di satu lingkup sosial kita, kini kita bisa melihat apa yang teman anda lakukan setiap detiknya. Sambil memamerkan kegiatan mereka selanjutnya dengan quote "work hard, be humble". Dan setiap anda melihat posting itu, jiwa anda terbakar.

Korbankanlah waktumu untuk hal-hal yang baik. Jika sekarang maunya yang baik-baik doang, pesta pora, penuh hiruk pikuk sana sini, percaya deh, nanti akhirnya ga bagus, terlepas anda nanti kaya atau bagaimana. Sekuat apapun kita menahan roda hidup, ia akan terus berputar.

Dunia ini milik mereka yang berusaha, berilmu, dan berbudi.

Wednesday, September 2, 2015

Hari x

Suatu hal yang tidak bisa dihindari, kita akan menua. Hari-hari yang biasanya diumbar penuh gelak tawa dan air mata berganti dengan hari-hari menatap kosong.

Kita dahulu percaya bahwa siapa yang bekerja keras akan mengambil benihnya. Namun mereka yang bekerja keras akan kalah dari mereka yang bekerja secara cerdas. Lalu yang bekerja cerdas akan kalah dengan yang memiliki koneksi. Lalu yang memiliki koneksi akan kalah dengan yang beruntung. Lalu kita mulai menyadari bahwa hal-hal seperti materi ini tidak pernah bisa menyenangkan, dan kita perlahan meninggalkan dunia jenis pertama ini.

Konyol. Ternyata kita dengan uang 200 ribu bisa menikmati perjalanan ke pesisir pantai hingga pulang lagi, menikmati momen yang selama ini ditelan waktu. Sekedar duduk menemani orang tua dan membelikan mereka pizza setiap minggu lebih membahagiakan daripada menabung bekerja sabtu minggu untuk pergi bersama mereka keliling eropa. Dan mengajak istri pergi ke tempat-tempat sederhana sambil berbicara tentang apa saja juga membahagiakan. Namun kita lagi-lagi mencari yang lainnya, seolah ada makna di dalam cerita, seperti buku-buku yang telah kita baca.

Kita mencoba menjadi lebih berarti dengan mengekspresikan diri, menjadi tulang punggung pagi masyarakat kurang mampu, dan mencoba memperbaiki segalanya yang ada di dunia ini.

Lalu di kemudian hari itu, mudah-mudahan kita tidak sama dengan pria di depan kita yang sekedar duduk sendiri menatap waktu paruh bayanya. Meskipun kita tahu semua pada akhirnya akan begitu.

Dan berapa lama kita habiskan waktu dalam kebingungan ketika yang perlu kita lakukan hanyalah sekedar berjalan di tengah kerumunan?

Kita lalu mulai menceritakan pahit manisnya perjalanan, mencari jalan di kerumunan, dan berkenalan dan pergi bersama mereka yang kita sukai. Lalu kebingungan kita mulai hanyut. Sayangnya hanyut juga bersama doa-doa yang kita lantunkan setiap malamnya.

Berkata bahwa kita lebih bahagia dalam kebingungan dalam lindungan doa, ketimbang tentram dalam lindungan materi dan keluarga.

Tuhan pun hanya tertawa menggelengkan kepalanya.

Melihat hamba kesayangannya menjadi terlalu mandiri. Mereka saling rindu hingga akhirnya mereka bertemu.

Bermain catur di alam sana.

Friday, July 24, 2015

Metafora

Dari dulu saya mencoba mencari analogi yang pas atas apa yang sebenarnya terjadi di seluruh penjuru bumi ini, saya akan menghapus kasus-kasus ekstrem, dan mengambil garis besarnya saja.

Hidup adalah permainan belaka, kadang kita terlalu serius sampai lupa menghidupinya.

Anggap saja kita sedang di dalam pertandingan sepak bola, semua orang secara acak dibagi ke kedua tim, dan posisi kalian sudah ditentukan di awal. Beberapa orang terlahir dengan postur yang lebih bagus, beberapa dapat posisi yang mereka inginkan. Lalu harus ada peraturan bukan? Jika tidak ada peraturan, maka sepak bola hanya akan seperti kumpulan dua puluh dua orang berlari tidak karuan. Dan dalam sembilan puluh menit semua akan berakhir.

Beberapa dari kita ada yang terlalu asik memikirkan betapa tidak adilnya komposisi pemain di tim kita, betapa fana dan tidak jelasnya permainan ini, lalu beberapa orang ini akan duduk merenung sinis ketimbang benar-benar bermain di lapangan yang disediakan.

Beberapa juga ada yang terlalu serius untuk memenangkan pertandingan ini, sampai rela untuk mencederai lawan sampai hingga akhirnya dikeluarkan, atau frustrasi berlebihan soal hasil akhir. Padahal ini hanya sekedar permainan.

Semua akan kelelahan, merasa frustrasi, kadang harus menabrak lawan untuk berebut sesuatu, menyakiti orang lain, jatuh, bangkit, namun pada akhirnya semua ini hanya senda gurau belaka. Kadang kita menggenggamnya begitu erat seolah kalau tidak menang kita akan kehilangan semuanya.

Padahal, setelah permainan sembilan puluh menit itu berakhir, kita akan kembali ke rutinitas kita. Sama halnya ketika kita mati, kembali ke alamnya.

Bayangkan bahwa hidup yang kita jalani sekarang ini seperti sembilan puluh menit waktu yang kita habiskan dari total boleh dibilang seratus tahun umur kita hidup. Singkat bukan? Saya sangat percaya Tuhan menghadirkan manusia di bumi ini untuk itu, untuk bermain, sesuai aturan, jangan terlalu serius, karena kita akan kembali pada akhirnya.

Salam olahraga, sudah lama gak futsal nih.

Monday, May 25, 2015

Deras Sekali Ya

Hai. Saya pria yang sama di dalam kereta.

Mungkin situ juga pernah bahkan sering bertanya betapa derasnya arus manusia di dalam moda transportasi ini. Saya juga sering menatapi sepatu-sepatu orang, meratapi kesempitan, sambil mendengarkan lagu favorit. Lalu apa?

Ya mungkin kita bertanya hal-hal yang sama, tentang bagaimana kita membiarkan hari-hari kita dimakan oleh rasa khawatir ataupun pikiran-pikiran yang membuat kita hidup entah di mana. Dalam kebengongan yang permanen, sudah sekitar tiga bulan mungkin, semua saya biarkan sekedar terjadi, seolah lepas kendali, membiarkan dunia membimbing dengan derasnya waktu.

Dengan melihat situs-situs sosial, membuat saya kadang bingung. Bingung menempatkan diri saya, karena begitu banyak jenis teman saya, ada yang begitu sederhana, sekedar jalan-jalan ke Bandung sudah begitu membahagiakan, ataupun jenis teman saya yang lainnya, ke benua atau menikmati pemandangan dari gedung-gedung pencakar langit dari berbagai ibukota.

Hingga saya mengantungi handphone saya, lalu melihat pria buta dengan tongkat dan boombox kecil di pinggang kirinya, terduduk menghadap depan. Saya berandai-andai, jika ia dibukakan matanya, mungkin belum tentu ia akan sebahagia saat itu. Karena dunianya hanya dibatasi oleh suara, sentuhan, dan rasa. Karena tidak perlu dipukau oleh penampilan, mungkin mereka bisa lebih objektif menilai makanan, ataupun nyanyian seseorang.

Sementara saya akan terus mengalami distraksi berkelanjutan, kebingungan karena semua seolah benderang, terdengar membahagiakan. Seolah semua lima indra saya harus dipuaskan sepuas-puasnya. Kadang kalau saya sedang lelah terhimpit berebut tempat di kereta, saya duduk di peron dengan minuman ringan kesukaan saya, dan benar-benar melupakan semuanya yang sedang terjadi dan akan terjadi, rasanya seperti sedang berada di dalam perjalanan sementara, yang sebentar lagi akan berakhir, selalu begitu.

Mungkin saya perlu menutup mata saya, menutup telinga, dan berpuasa. Indra saya telah menjadi otak saya, telah menjadi hati saya. Indra yang seharusnya membahagiakan, malah menyesatkan. Jika saya terus menerus membandingkan yang tidak masuk akal tanpa usaha, yang ada saya depresi. Kalaupun usaha dengan terus berekspektasi yang berlebihan saya pun akan stress. Kadang saya berpikir, saya ini mau apa.

Jika anda ditanya sungguh-sungguh oleh seseorang, anda ini mau apa, apa jawaban anda?