Tuesday, June 20, 2017

Bersujud di tengah pikuknya dan benderangnya malam

Di dalam kereta, pukul 10.45 malam menuju ke tempat labuhan terakhir, seseorang  yang kurus kering dengan kemeja lusuh membawa dagangan tahu dan tempe sambil berdiri tenang, beberapa kali ia ditawarkan tempat duduk namun ia melambaikan terima kasihnya. Di depannya berdiri seorang pria muda pucat pasi, mengerinyitkan dahi, pipi, hingga matanya, ia menghela nafas begitu panjangnya, namun jarak antar nafasnya semakin cepat, hingga akhirnya seorang ibu yang memperhatikan, memberikannya tempat duduk.

Pria itu tersenyum kebingungan, sambil mengangguk menyampaikan terima kasih lewat raut wajahnya. Sang ibu hanya menggelengkan kepalanya sambil mempersilahkan.

Setiap denyutnya semakin terasa, semakin bernafas semakin terhimpit, hingga akhirnya ia menekuk tubuhnya, duduk sambil menaruh kepalanya di pangkuannya sendiri.

Mengapa beberapa orang dianugerahi pikiran yang begitu dalam, hanya untuk menjadi korban dari pikirannya sendiri. Mengapa beberapa orang terlahir dengan begitu mudah mengendalikan pikirannya sendiri, untuk mengambil alih dan menjadikannya sesuai dengan prasangkanya. Namun pikirnya, hanya orang yang sering terhanyutlah yang akan menghargai hangatnya pelukan seseorang, hanya orang yang sering terjatuhlah yang akan menghargai hari yang sederhana.

Namun sayangnya, sebelum itu ia harus berani bersujud di tengah sunyinya malam. 

Wednesday, April 12, 2017

Musim Panas dan Musim Lainnya

Musim panas dan musim-musim lainnya
Di atas, di susunan kata-kata tak beratap
Kesadaran yang ingin dikendalikan
Meluncur dari terang ke gelap

Apa yang menjadikan momen satu lebih baik dari momen lainnya
Apakah karena yang satu berlangsung selamanya
Atau karena yang satu berlangsung seadanya
Dan di dalam rutinitas, kita tidak berada benar-benar berada di sekarang

Musim panas dan musim-musim lainnya
Mengapa semua orang terjerembab di dalam pikirannya
Seolah tiap-tiap dari seseorang, bergerak dengan referensi waktunya sendiri
Ironi ketika mereka ingin bicara untuk menjadi lebih sekarang dari sebelumnya

Oh apakah kita sekedar puing-puing reruntuhan kenangan yang berbenturan
Mencoba menyusun makna dari titik yang sebenarnya tidak diperuntukkan
Untuk dimaknai
Untuk disyukuri

Di saat-saat seperti ini, aku ingin menjauhi kerumunan
Jauh, sejauh-jauhnya.

Saturday, March 11, 2017

Yang saya benci

Tentang balutan cahaya yang dibuat cenderung berbeda dari kenyataan biasanya. Dan durasinya yang hanya berlangsung dua hingga tiga jam. Seolah hidup seseorang bsa dirangkum dalam waktu sesingkat itu. Akhir-akhir ini film semakin bagus, semakin mudah terjangkau untuk segala kalangan, dari segala genre, drama hingga yang paling aneh pun ada.

Saya benci film, karena betapa inspirasionalnya mereka, begitu mudahnya mereka membakar semangat atau emosi saya dalam sesaat, dan menghipnotis saya seolah hidup akan begitu bermakna suatu hari, akan ada perubahan dalam semalam, atau setidaknya dalam lima belas menit dalam tiga jam yang menjadikan dunia pemeran tersebut berubah, dan tiba-tiba dunia berada di sisi mereka.

Mungkin bukan film, saya benci suatu cerita yang diceritakan orang lain, seperti kisah inspirasional pendiri sosial media, aplikasi, brand clothing, atau hal keren lainnya. Karena cerita tersebut terkesan parsial, setengah, dan lebih banyak yang tidak saya dengar.

Mungkin juga bukan cerita. Saya benci tentang kebanyakan orang yang mengidolakan orang-orang tersebut sehingga semua media menyorot tentang orang-orang yang terkesan hebat tersebut, mampu menciptakan begitu banyaknya uang dalam sekejap di usia muda. Mengapa mereka tidak menceritakan tentang tukang parkir di stasiun kereta saya yang setiap hari selalu tersenyum, dan saya bisa percayakan saat saya menitipkan kunci mobil saya?

Tentang bagaimana mereka bisa dipercaya, dan tidak mencari jalan singkat untuk mengejar kekayaan sesaat.

Mengapa kita selalu ingin mendengar satu banding satu milyar. Tentang orang-orang yang sangat hebat, yang jelas-jelas tidak memiliki korelasi secara strata sosial, keberuntungan, ataupun finansial. Mengapa kita tidak mengangkat sesuatu yang sifatnya moralis, akademis, tentang betapa pentingnya untuk memiliki nilai ketika semua orang menghantam apapun demi sekedar reputasi konyolnya.

Mungkin saatnya kita belajar untuk mencintai sesuatu yang biasa-biasa saja. Karena dunia saat ini sedang gembor-gembornya menyebarkan sesuatu yang heboh, bombastis, dalam sekejap orang bisa dengan sabarnya mengantri tempat makan yang mewah ataupun unik, handphone baru, film baru.

Ah mungkin saya benci konsumerisme, tentang bagaimana orang berbondong-bondong setiap harinya didorong untuk belanja-belanja, dan mendapatkan uang lebih banyak lagi, agar ekonomi bisa tumbuh, agar manusia bisa menggerakkan roda ekonomi.

Ah mungkin saya sedang membenci diri saya sendiri. Namun saya mau menulis yang lebih manusiawi saja, tentang resah, gundah, tentang begitu banyak yang tidak bisa dikendalikan, dan begitu sedikit yang bisa dikendalikan, dan di antaranya begitu banyak hal yang kita perhatikan, dan begitu banyak juga hal yang tak sengaja terlewatkan, kita bagai semut di tengah pasar malam, bergantian melihat sesuatu yang terang, kadang gelap, namun yang pasti, karena si semut merasa sepi, di tengah ramainya malam, ia mulai membenci sekitarnya.

Lagipula ini Maret.

Monday, January 2, 2017

Esai tentang takdir

Ada beberapa hal yang kita harus mengerti, tentang pelajaran yang pernah disampaikan sejak TK hingga lulus kuliah misalnya, atau tentang mengapa kita harus berperilaku baik ke orang lain maupun diri sendiri tanpa pamrih, dan mungkin ada ribuan pasal lainnya. Namun ada satu pasal yang harus juga kita pahami bahwa, kita tidak akan mampu untuk mengerti semua hal, karena sebenarnya mungkin tugas kita hanya untuk menjalankan dan percaya.

Beberapa cerita tentang anak yang menjadi korban perkosaan misalnya, mau dilihat dari sudut pandang manapun, kita tidak akan habis pikir dari mana sisi logisnya jika ditarik garis panjang lima puluh tahun ke belakang, dan lima puluh ke depan, dosa apa yang pernah anak itu lakukan hingga harus mengalami hal sekeji itu. Dan jika kita teruskan untuk merenungkan, kita akan sampai dengan dua jawaban, antara semesta memang sekeji itu atau kita perlahan harus mengakui masih banyak yang kita belum mengerti, dan tidak akan pernah mengerti.

Beberapa orang mungkin akan merasakan hal yang senada dengan saya, karena selama ini kita dididik dari kecil dengan ilmu sebab akibat, setiap fenomena bisa dijelaskan dengan kalimat ataupun angka. Namun sebaliknya, seiring kita dewasa kita dihadapkan dengan situasi-situasi yang benar-benar di luar kendali kita, seperti perceraian, perselingkuhan, kekerasan terhadap anak, orang tua yang abusive,  bullying, orang tua sakit parah, ketidakpastian hidup, kecelakaan, dan segala bentuk penderitaan kolosal lainnya.

Lalu kita setiap harinya berdoa agar kita bisa sedikit lebih beruntung dari mereka yang pernah kita lihat, dengan hati yang tertunduk, tanpa mengucap serapah, kita mengakui betapa besarnya Ia yang menciptakan, dan betapa tidak signifikannya kita di dalam alam semesta ini, namun dalam rendahnya hati kita yang menyentuh bumi tanah tersebut, kita menanam harapan kecil, bahwa mungkin dalam kasihNya kita berhak untuk berbahagia di sini dan di alam lainnya, dan dalam harapan tersebut kita akan terus berusaha dengan menundukkan hati kita.

Karena segala ketidakbahagiaan berasal dari hati yang mendongak, berpikir bahwa kita mengetahui apa yang kita perbuat, dan kita memiliki hak atas apa yang kita tanam. Lalu apa kita ini makhluk yang harus sekedar sabar leyeh-leyeh di pinggir jalan sambil meminta melulu? Dan yang terus berusaha menyusun dirinya, sambil menundukkan hatinya, akan ditinggikan derajatnya, jika bukan sekarang, di alam yang nanti.

Untuk saya sendiri yang sedang frustrasi, untuk orang lain yang sedang dihadapkan dengan cobaan-cobaan. Sudahi berpikirmu yang sudah berbulan-bulan berujung kalimat yang sama, mulailah dengan mengisi apa yang bisa diisi, membersihkan apa yang bisa dibersihkan, dan berdoa bahwa mungkin esok akan ada cerita-cerita baik lainnya.

Selamat tahun baru.

Saturday, April 2, 2016

Menyusun Senja

Ini tentang tulisan saya untuk menggapai mimpi-mimpi yang rusak sebelum tercapai.

Ini tentang lilin yang redup sebelum cahaya menyambut.

Ini tentang senja yang terlalu lama berganti ke malam.

Subuh, bukankah kamu selalu mendengar lantunan namaKu berkumandang. Namun derap langkahmu semakin jauh dari kebahagiaan nak. Kamu itu anak yang baik, namun entah mengapa kamu murung terus seolah seseorang menyembunyikan mainanmu. Aku dekat, lebih dekat dari rasa takutmu menghadapi guratan masa depan. Sejak kapan kamu menjadi begini, berada di dalam malam yang panjang, namun kamu terus merasa kekurangan waktu untuk sekedar tenang.

Yang belum tercapai, tulislah. Dalam kata-kata yang baik. Karena kamu, niatmu yang baik akan terjaga di sana. Hingga suatu hari kamu melihat tulisanmu, dan sadar atas apa yang telah Aku suguhkan padamu.

Kamu akan terus kesepian jika kamu terus bersenandung tentang apa yang tidak kamu punya, tentang apa yang tidak bisa kamu capai. Di sisimu itu ada yang menyemangati, namun kau angkuh untuk menghargainya. Nak, masamu yang sekarang ini sulit, namun dengan segala hiruk pikuk yang kamu lihat sekarang, percayalah bahwa ini baik. Dengan segala rasa takutmu dan ketidakadilan dunia, percayalah. Setiap engkau takut, rajutlah tulisan-tulisanmu di sini.

Aku ini mendengar, namun prasangkamu itu berbelit-belit. Ini permainan nak, suatu hari kamu akan terbahak-bahak mengingat ini. Untuk sementara ini, berdoa, berdoa, dan berdoa.

Aku ini melihat apa yang kamu perbuat, dosa kecil konyolmu yang kau ulang pun Aku pusing melihatnya. Namun hatimu itu baik, dan harus selalu di sana. Sebut namaKu nak ketika hal mulai tidak masuk akal.

Salam hangat,

Semesta

Sunday, March 20, 2016

Cerita tentang mereka yang pergi tanpa kembali

Pada dasarnya, dunia benci mereka yang tidak bisa bersyukur dan menjaga apa yang telah menjadi miliknya.

Sebut saja raja yang memperlakukan ratunya secara semena-mena hingga ratunya pergi. Sebut saja ketika kita telah memberikan seseorang sebagian dari harta kita untuk bekerja, namun malah kerja secara uring-uringan. AzabKu pedih kata Tuhan, jikalau kau telah diberikan lebih, diberikan kesempatan, namun kau sia-siakan.

Sebut saja ini cerita tentang itu, tentang saya yang akhirnya pergi.

Saya adalah bagian dari diri saya sendiri, sebut saja sebenarnya ada beberapa unsur yang harus ada di dalam manusia. Saya adalah unsur tersebut, yang saya sebut Berkah, dan anggap saja tubuh yang saya tunggangi saat ini bernama Afif. Afif sehat, normal seperti manusia kebanyakan. Namun Afif selalu menempatkan dirinya di dalam bilik-bilik sepi, di mana Afif biasa bersandar untuk berpikir sebentar. Sebenarnya setiap Afif bersandar sebentar selalu ada pilihan. Pilihan untuk bersyukur, pilihan untuk mengeluh. Hanya ada dua yang mengiringi hari-hari Afif ini.

Di antara dua, akan ada saya Berkah, dan teman saya Gundah.

Seperti pembaca mungkin akan berakhir seperti apa. Saya sudah menanti berhari-hari untuk mendengar puja tentang harinya, tentang betapa indahnya nyanyian merdu malam, tentang senyapnya jalanan, tentang indahnya misteri ketidak pastian, tentang rejeki yang terus mengalir, tentang nikmat yang hanya perlu disebut sesekali agar setidaknya saya dapat bertahan hidup di tubuh ini. Atau tidak saya akan terus menyusut dan kalau saya merasa terancam, saya akan pergi seketika.

Namun saya juga heran apa yang membuat Afif begitu mempersulit hidupnya yang sebenarnya biasa saja dibandingkan dengan orang kebanyakan. Memang sih Afif terlahir begitu cerdas dan teman-temannya sudah sukses di mana-mana. Namun sampai ia tua kini, nampaknya ini waktunya saya pergi.

Ketika bangun pagi Afif hanya menyumpah tentang betapa dirinya ingin tidak terbangun untuk selamanya. Ketika Afif terjebak di kemacetan, ia akan menghina semua yang berada di sekitarnya, dan saya bisa terus bercerita tentang Afif, tentang ia terus mempersulit hidupnya ketika sebenarnya yang ia butuhkan hanyalah perspektif baru.

Tentang mereka yang kecil dan terus mengalir, tidak harus besar dan mengejutkan. Namun jika saja Afif tahu betapa pentingnya untuk mensyukuri hal-hal kecil yang remeh tersebut, Gundah yang sebenarnya saya tidak suka-suka amat, pun bisa saya singkirkan. Toh badan Afif sudah terlalu sempit untuk satu unsur di dalamnya.

Namun saya harus pergi, tanpa kembali.

Dan membiarkan Afif merusak hidupnya, berkali-kali. 

Monday, November 16, 2015

Tomas Radaya

Ketika tiang listrik dan kabelnya seolah menari naik turun, menyapa, saat ia memandang ke jendela mobil. Sudah dua puluh tahun sejak itu, semakin tua, namun yang dilakukan tetap sama, menyendiri memandang hal-hal yang orang lain tidak pernah perhatikan. Eksentrik; Hobinya sih kerja, tapi uangnya tidak tahu habis kemana. Lemarinya selalu penuh dengan arloji warna warni yang memiliki tutup tokoh kartun di depannya, jika dibuka akan tampak jam digital di dalamnya.

Saya kakaknya, Nuril Radaya. Dari kecil saya tumbuh bersama adik saya yang lucu ini, walaupun sekarang sudah dua puluh lima, tapi ia masih begitu adanya. Saya kebetulan sudah menikah, istri saya sedang mengandung tiga bulan. Karena ayah kami baru meninggal sekitar seminggu lalu. Saya jadi sering menginap di rumah mendiang orang tua saya, ibu saya yang masih sehat, ditemani bersama Tomas.

Tomas ini cerdas, karena keturunan dari ayahnya sendiri sih. Ayah saya merupakan lulusan aeronotika di ITB dulu, dari kecil beasiswa, dapat program magister dan doktornya pun beasiswa di Amerika Serikat sana. Ibu saya lulusan kedokteran, katanya sih mereka pertama kali ketemu waktu cek paru-paru pertama kali. Karena ayah saya perokok berat dulunya, sejak bertemu ibu saya, langsung dipaksa berhenti. Dari situ katanya malah jadi benih pertemanan hingga ke pelaminan.

"Ril, si Astari gak kamu ajak? Kamu nyelonong aja ninggalin istri kamu di rumah begitu, nanti kalo dia ditaksir sama lurah sebelah gimana?" Ibu saya mampir membawakan martabak telor.

"Iya nanti Astari mampir, tadi pagi dia jenguk temennya, baru lahiran juga. Sekalian lah ketemu temen, ketemu aku terus nanti bentuk muka anak aku begitu-begitu aja lagi." Saya membalas.

"Hus. Ngomongnya. Kebiasaan deh gak lucu." Ibu menepuk pundakku.

Saya lulus tahun 2008, Tomas lulus sekitar 2010. Dua-duanya gak ada yang antusias untuk masuk jurusan teknik ataupun kedokteran. Malah tertarik untuk masuk IT. Ketika saya lulus, saya langsung masuk kerja di multinational company sih, dapat training dua tahun di Singapura. Adik saya yang IPnya tembus 3.9 malah masuk entry level di perusahaan developer mobile software lokal. Tapi karena emang dasarnya otaknya pinter sih, sekarang dia masuk ke multinational company juga untuk jadi program analyst. 

Saya selalu iri sih dengan cara Tomas berpakaian, menjalani hidup, mengambil keputusan. Kemejanya selalu disetrika rapih, warnanya hanya ada biru muda dan abu-abu, celananya selalu warna cokelat terang dan gelap. Ia selalu bangun pagi jam 5 untuk membantu membuatkan ibunya sarapan, dan pulang sebelum jam 8 karena ia selalu download film serial kesukaannya sebelum tidur. Dia juga sudah menabung untuk program magisternya di Belanda nanti, walaupun sudah 80 persen dia akan dapat beasiswa.

"Tom, makan mie ayam jamur di Tebet yuk. Sekalian aku jemput Astari di situ, siapa tau ketemu Anin di situ."

"Heh, jangan ngomong aneh-aneh deh. Ngajak, ngajak aja. Bentar ya, matiin AC bentar." Tomas bergegas mengambil jaketnya.

"Tom, kamu kapan belajar nyetir deh. Mau sampe kapan naik angkot kopaja terus. Orang tabungan udah kayak gaji pemain bola liga spanyol gitu." Aku sambil menyalakan mobil, dan menunggu mobil panas.

"Iya liga spanyol divisi tiga." Tomas membalas bercanda. Tomas mungkin tidak dikaruniai selera humor yang baik, setelah segala bakatnya berada di dia.

Akhirnya dari rumah, saya dan Tomas berangkat ke daerah Tebet. Sudah agak malam waktu itu, sekitar pukul 10 malam, tapi rasanya hari masih panjang. Karena beberapa hari ini saya tidak masuk ke kantor, sekedar balas email dari handphone ataupun per panggilan telepon.

"Ril, kayaknya Ibu masih sedih banget deh kehilangan Ayah. Semalem aku jam satu pagi gitu kedengeran ada orang ngambil minum sambil nahan nangis gitu." Tomas celetuk serius.

"Ya namanya juga suami istri Tom. Apalagi Ibu dapetnya yang sebaik Ayah kayak gitu. Kerjaannya bawain makanan melulu ke rumah, segala bunga lah dibawa udah kayak jaman pacaran, kadang beli mesin cuci, mesin penyedot debu. Konyolnya lagi, itu dibungkus pake kertas kado gambar-gambar gitu kan? Bapak kamu tuh, kelakuan, masih genit aja sama istri sendiri."

"Iya sih. Tapi aku jadi takut berkeluarga jadinya Ril, gak enak aja gitu ninggalin Ibu. Dulu Ibu ada yang nemenin tiap hari ketawa aja kerjaannya sama ayah di dapur. Sekarang aku mau pergi malem minggu aja jadi gak enak." Tiba-tiba nada Tomas berubah sendu.

"Yah Tom. Kalo Ibu denger kamu ngomong begini, yang ada malah makin nangis dia. Ya udah lah, kamu mah dari dulu sensitif amat sama orang lain. Kalo sama orang-orang terdeket kamu mah, kamu lakuin aja yang bikin kamu bahagia gitu, karena emang kita-kita nih, Ayah, Ibu, tuh dari dulu ya pingin kamu seneng. Kamu udah bertanggung jawab segini jauh, kalo kamu mau nyenengin aku, Ibu terus ya gak ada habisnya."

"Ayah udah pergi, suatu hari Ibu pergi, aku juga pergi. Kalaupun aku nanti pergi, aku pingin ngeliat kamu bahagia, berusaha sama sisa hidup kamu, nanti aku pantau di alam sana, di surga, ataupun di neraka haha. Makanya jangan ngunci kamar terus malem-malem, nanti diliatin dari sana hahahaha."

"Ya kali Ril, gak gitu juga. Iya sih, ada benernya."

Dari kecil Tomas memang agak lucu sih, kalau lagi nonton bola, misalnya Belanda lawan Korea Selatan, dia bakal terang-terangan bela Korea Selatan, karena dia orangnya gak tegaan kalau ada underdog gitu. Kalau nonton acara wild world yang cheetah kejar-kejaran sama kerbau saja dia bisa nangis, padahal sudah SMP waktu itu.

Jujur saya agak kasihan ketika Tomas sewaktu SMA harus kenal dengan Anin ini. Dari dulu Anin memang agak suka ngelawan orangnya, pingin tampil beda. Tomas yang cupu gitu entah kenapa malah kepincut sama yang seperti itu. Mereka sempat bersama sekitar 1 tahun, sampai akhirnya putus karena Anin selingkuh. Tomas bukannya marah atau apa, malah bilang ke selingkuhannya untuk jagain Anin.

Kayaknya itu terakhir saya mendengar cerita cinta soal Tomas, sejak itu ia tidak pernah cerita banyak soal pasangannya. Kata Ibu sih kemarin ia kepergok ketemu di mall sama wanita rambut pendek. Ya saya hanya bisa mendoakan sih.

"Sayang, aku udah di depan rumah temen kamu nih. Masuk sekalian apa udah kemaleman? Kalo bisa aku ga usah masuk deh, ada Tomas nih, kita makan mie ayam jamur di Tebet situ yuk."

Akhirnya Astari keluar dari rumah temannya dan bergegas masuk ke mobil, tiba-tiba mulai gerimis.

"Tom, kamu dibully apa lagi sama si papa Nuril? Kalo ada apa-apa bilang aku ya, biar aku patahin lehernya." Istri saya memang lain kalau menyapa.

Sambil berkendara pelan, di tengah rintik hujan, Tomas pindah ke kursi belakang. Istri saya sambil mengelus perutnya yang sudah bulat, Tomas masih melihat tarian tiang listrik yang sama. Saya selalu merasa Ayah dan Ibu mendoakan kami. Tiba-tiba melihat betapa jauh saya melangkah dari saya yang dulu sampai saya yang bisa menjadi figur bagi adik saya yang saya banggakan, mata saya berair. Dan ketika menoleh ke kiri, senyumnya masih sama, dan akan saya jaga.